Dingin Tapi Panas: BMKG Jelaskan Misteri Suhu Ekstrem Surabaya yang Bikin Netizen Heboh

BMKG membantah viral suhu Surabaya 48 derajat. Perbedaan antara suhu udara dan suhu yang dirasakan tubuh terletak pada faktor kelembapan, angin, dan radiasi matahari.

Oct 6, 2026 - 10:56
Oct 6, 2026 - 10:56
 0  4
Dingin Tapi Panas: BMKG Jelaskan Misteri Suhu Ekstrem Surabaya yang Bikin Netizen Heboh

Reyben - Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan klip video yang menampilkan angka suhu mencapai 48 derajat Celsius di Surabaya. Postingan tersebut menyebar dengan cepat dan membuat publik khawatir akan kondisi iklim ekstrem. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung turun tangan untuk meluruskan informasi yang beredar. Lembaga yang bertanggung jawab atas monitoring cuaca nasional ini membantah bahwa suhu udara sesungguhnya tidak pernah mencapai angka tersebut. Penjelasan BMKG menjadi penting untuk menghindari kepanikan dan kesalahpahaman publik tentang kondisi cuaca Surabaya.

Misteri di balik angka-angka suhu tinggi yang viral terletak pada perbedaan antara suhu udara dan suhu yang dirasakan oleh tubuh manusia. Suhu udara adalah pengukuran objektif yang dilakukan oleh alat meteorologi di lokasi tertentu dengan kondisi standar. Sementara itu, suhu yang dirasakan—atau yang dalam istilah meteorologi disebut "apparent temperature" atau "heat index"—adalah kombinasi dari beberapa faktor cuaca yang mempengaruhi bagaimana kulit manusia merespons lingkungan sekitar. Faktor-faktor tersebut meliputi kelembapan udara, kecepatan angin, radiasi matahari, dan bahkan ketinggian lokasi. Jadi, ketika seseorang merasa sangat panas meski angka termometer tidak setinggi itu, hal tersebut sebenarnya adalah dampak dari kombinasi faktor cuaca yang kompleks.

Kelembapan udara memainkan peran krusial dalam menentukan seberapa panas yang dirasakan tubuh. Di daerah tropis seperti Indonesia, kelembapan sering kali mencapai 80-90 persen, terutama pada siang hari. Tingginya kelembapan membuat keringat pada kulit tidak menguap dengan efisien, sehingga tubuh kesulitan melepaskan panas. Inilah mengapa di kota-kota tropis dengan kelembapan tinggi, seseorang bisa merasa jauh lebih panas dibanding dengan daerah beriklim kering dengan suhu udara yang sama atau bahkan lebih tinggi. Fenomena ini kerap dialami warga Surabaya, yang merupakan kota pelabuhan dengan kelembapan relatif tinggi sepanjang tahun. Kombinasi suhu udara 30-35 derajat Celsius dengan kelembapan di atas 80 persen dapat membuat heat index mencapai 45 derajat Celsius atau lebih.

Faktor lain yang tidak boleh diabaikan adalah kecepatan angin. Angin yang bergerak lambat atau bahkan statis membuat udara panas terasa semakin menyengat karena tidak ada sirkulasi udara yang membantu penguapan keringat. Sebaliknya, angin yang cukup kencang dapat membuat suhu yang dirasakan menjadi lebih rendah karena mempercepat proses pendinginan melalui penguapan. Selain itu, intensitas radiasi matahari langsung juga signifikan mempengaruhi. Jika seseorang berada di area terbuka dengan paparan matahari penuh, heat index bisa jauh lebih tinggi dibanding yang berada di area bernaung. BMKG mengingatkan masyarakat untuk memahami perbedaan ini agar tidak terjadi alarm yang tidak perlu.

Penjelasan BMKG ini bukan sekadar klarifikasi teknis, melainkan upaya edukasi penting untuk meningkatkan literasi meteorologi masyarakat. Dengan memahami konsep suhu udara versus suhu yang dirasakan, publik dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat saat musim panas. Menggunakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat, menghindari aktivitas berat pada siang hari, serta memperbanyak minum air putih adalah strategi yang tetap perlu dilakukan meskipun suhu "sebenarnya" tidak setinggi yang viral di media sosial. BMKG terus melakukan monitoring suhu dan menerbitkan peringatan dini jika terdapat kondisi cuaca ekstrem yang benar-benar berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow