Dari Lapangan Hijau ke Kemudi Mobil: Kisah Alexander Pulalo yang Memilih Realitas

Alexander Pulalo, mantan pemain Persib dan Persija, kini bekerja sebagai sopir perusahaan setelah menjalani karir sepak bola profesional. Kisahnya merefleksikan tantangan nyata yang dihadapi atlet Indonesia dalam mempersiapkan masa depan pasca-pensiun.

Jun 28, 2026 - 07:51
Jun 28, 2026 - 07:51
 0  0
Dari Lapangan Hijau ke Kemudi Mobil: Kisah Alexander Pulalo yang Memilih Realitas

Reyben - Alexander Pulalo, nama yang mungkin masih diingat oleh para pecinta sepak bola Indonesia, kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari masa jayanya sebagai pemain profesional. Mantan gelandang yang pernah meramaikan lini tengah Persib Bandung dan Persija Jakarta ini kini lebih sering menghabiskan waktunya di balik kemudi kendaraan operasional sebuah perusahaan besar. Pilihan hidup yang cukup mengejutkan ini mencerminkan realitas pahit yang harus dihadapi banyak atlet profesional setelah karirnya berakhir.

Ketika masa keemasan Pulalo sebagai pemain bola telah usai, ia tidak memilih jalan mudah untuk bertahan hidup. Alih-alih mengandalkan nama besar atau koneksi olahraga, Pulalo memutuskan untuk bekerja sebagai sopir profesional di salah satu perusahaan multinasional. Keputusan ini bukan lahir dari kesombongan yang turun, melainkan dari kesadaran bahwa untuk mempertahankan kehidupan yang layak, ia harus bersikap pragmatis dan tidak memilih-milih pekerjaan. Banyak yang mungkin mempertanyakan mengapa seorang pemain Timnas harus turun menjadi sopir, namun Pulalo tampaknya telah menerima takdir dengan lapang dada.

Legion pemain Indonesia yang terpaksa berganti profesi setelah pensiun dari dunia sepak bola memang bukanlah fenomena baru. Pulalo hanyalah salah satu dari banyak atlet yang harus menghadapi kenyataan bahwa gaji pemain bola tidaklah berkelanjutan seumur hidup. Tidak seperti pemain-pemain top dunia yang bisa hidup nyaman dari endorsement dan investasi yang menguntungkan, kebanyakan pemain lokal Indonesia tidak memiliki passive income yang cukup untuk bertahan. Sistem perawatan karir atlet yang masih lemah di Indonesia membuat banyak pemain senior akhirnya harus mencari pekerjaan sampingan atau bahkan beralih profesi total.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah Pulalo adalah cerminan dari kebutuhan akan sistem perlindungan karir atlet yang lebih baik di Indonesia. Asosiasi Sepak Bola Indonesia dan berbagai lembaga terkait seharusnya memiliki program pengembangan sumber daya manusia bagi pemain yang akan pensiun. Program pelatihan keterampilan, pendidikan lanjutan, atau bahkan inkubasi bisnis bisa menjadi jalan keluar bagi pemain-pemain seperti Pulalo. Kini, generasi muda yang bermimpi menjadi pemain profesional perlu tahu bahwa masa depan mereka setelah bola bergantung pada persiapan yang matang sejak masih aktif bermain.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow