Dalih Hukuman Latihan Jadi Modus Kejam: Pelatih Menembak di Surabaya Ditahan Usai Lecehkan Atlet Remaja Berkali-kali

Mantan pengurus Perbakin menjadi tersangka atas dugaan pelecehan seksual terhadap atlet remaja di Surabaya. Polda Jawa Timur telah menahan pelaku yang memanfaatkan sistem hukuman latihan sebagai modus kejahatannya.

Jun 27, 2026 - 16:02
Jun 27, 2026 - 16:02
 0  0
Dalih Hukuman Latihan Jadi Modus Kejam: Pelatih Menembak di Surabaya Ditahan Usai Lecehkan Atlet Remaja Berkali-kali

Reyben - Seorang mantan pengurus organisasi olahraga menembak (Perbakin) kini menjadi tersangka setelah diduga melakukan tindakan cabul terhadap seorang atlet perempuan berusia 15 tahun di Surabaya. Kasus yang menggemparkan dunia olahraga ini terungkap setelah korban berani melaporkan aksi keji pelatih yang seharusnya membimbing mereka. Polda Jawa Timur telah menetapkan pria tersebut sebagai tersangka dan menahanya untuk proses penyidikan lebih lanjut. Kejadian mencengangkan ini membuka mata publik tentang betapa rentannya atlet muda terhadap eksploitasi dari figur otoritas di dalam lingkungan olahraga.

Modus operandi yang digunakan pelaku sungguh mencengangkan dan patut diwaspadai oleh semua orang tua dan pembina olahraga. Berdasarkan informasi dari penyidik, pelatih ini memanfaatkan sistem pemberian hukuman atau punishment saat sesi latihan sebagai celah untuk melakukan aksi mesum. Ketika sedang menjalankan sesi pelatihan, dia akan menganggap atlet melakukan kesalahan teknik atau indisiplin, kemudian menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk memberikan hukuman fisik yang berbatas. Dalam prosesnya, hukuman tersebut secara bertahap berubah menjadi sentuhan dan perlakuan yang tidak sesuai norma kesusilaan. Mekanisme ini memungkinkan pelaku untuk memperdaya korban, sekaligus membuat atlet tersebut merasa takut untuk melawan atau melaporkan apa yang dialaminya.

Korban, seorang atlet perempuan yang baru berusia 15 tahun, dilaporkan mengalami pelecehan berkali-kali dalam periode tertentu. Trauma mendalam menimpa sang korban yang seharusnya hanya fokus mengembangkan kemampuan dalam olahraga pilihan mereka. Keberanian korban untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak keluarga dan kemudian kepada kepolisian patut diapresiasi, mengingat betapa sulit umumnya korban pelecehan seksual untuk membuka diri. Pertandingan psikologis yang dialami oleh korban dan keluarga tentu sangat berat, namun langkah ini adalah awal dari proses penyembuhan dan pencarian keadilan yang hakiki.

Tindakan cepat dari kepolisian Jawa Timur dalam menetapkan pelatih tersebut sebagai tersangka dan melakukan penahanan menunjukkan komitmen aparat penegak hukum terhadap perlindungan anak dan pencegahan kekerasan seksual. Kasus ini sekaligus mengingatkan pentingnya pengawasan yang ketat terhadap individu-individu yang berada dalam posisi otoritas, khususnya di lingkungan olahraga anak muda. Organisasi olahraga, sekolah, dan institusi lainnya yang melibatkan anak-anak harus meningkatkan standar keamanan dan memiliki protokol pelaporan yang jelas untuk mencegah kasus serupa di masa depan. Semoga putusan pengadilan nantinya dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi korban serta menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh stakeholder dalam dunia olahraga Indonesia.

Pengalaman pahit yang menimpa atlet muda ini adalah pengingat keras bahwa perlindungan anak tidak boleh hanya menjadi slogan semata. Diperlukan edukasi berkelanjutan kepada atlet, orang tua, pelatih, dan pelapor olahraga mengenai batasan perilaku yang dapat diterima dan mekanisme pelaporan yang aman. Kasus ini juga menunjukkan bahwa posisi kepercayaan dalam olahraga dapat disalahgunakan jika tidak ada pengawasan dan akuntabilitas yang memadai. Semoga kasus ini menjadi momentum untuk semua pihak terlibat dalam dunia olahraga anak-anak untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang benar-benar aman, mendukung, dan menghormati integritas setiap atlet muda.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow