Bupati Manggarai: Gempa Tinggalkan Luka Psikis yang Sulit Disembuhkan, Kami Perlu Dukungan Ekstra
Bupati Manggarai akui keterbatasan dalam menangani trauma psikis pengungsi gempa. Layanan kesehatan mental yang ada sudah mencapai kapasitas maksimal, diperlukan bantuan profesional dari berbagai institusi untuk penanganan trauma yang efektif.
Reyben - Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dari sekadar membangun kembali infrastruktur fisik pasca gempa bumi. Bupati Herybertus Nabit mengakui secara terbuka bahwa dinas kesehatan mental dan layanan psikososial mereka sudah mencapai batas maksimal dalam menangani ribuan pengungsi yang mengalami trauma mendalam. Pernyataan transparan ini menjadi alarm penting bahwa bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan batu bata dan aspal, melainkan juga luka emosional yang terus berdarah di hati ribuan keluarga.
Tugas mengobati psikis pengungsi terbukti lebih rumit daripada dugaan awal. Ribuan jiwa yang kehilangan rumah, keluarga, atau kehidupan ekonomi mereka membutuhkan pendampingan intensif yang memerlukan sumber daya manusia terlatih dan berkelanjutan. Bupati Nabit mengungkapkan bahwa tenaga konselor dan psikolog yang ada masih sangat terbatas, sementara permintaan terus membludak setiap harinya. Banyak pengungsi yang mengalami gangguan tidur, kecemasan akut, depresi, bahkan tanda-tanda gangguan stress pasca trauma (PTSD) yang serius. Situasi ini menciptakan gelombang kesehatan mental yang tidak terlihat namun sangat mengancam stabilitas masyarakat jangka panjang.
Keseriusan kondisi ini mendorong pemerintah kabupaten untuk melobi berbagai pihak agar turun tangan memberikan bantuan profesional. Tim psikolog dari organisasi kesehatan nasional, lembaga sosial, maupun relawan berpengalaman sangat dibutuhkan untuk melengkapi tim lokal yang sudah bekerja siang malam. Pendekatan holistik dalam penanganan trauma gempa menjadi kunci agar dampak psikologis tidak bersifat permanen dan tidak mengganggu proses rekonstruksi masyarakat secara keseluruhan. Pemerintah pusat diharapkan dapat mengalokasikan dana khusus untuk program kesehatan mental darurat dan pembangunan infrastruktur psikososial jangka panjang di Manggarai.
Kasus Manggarai ini menjadi pengingat keras bahwa respons bencana modern harus mencakup dimensi kesejahteraan mental, bukan hanya pemberian tenda dan makanan. Pengalaman traumatik gempa dapat meninggalkan jejak generasi jika tidak ditangani dengan serius sejak awal. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, organisasi internasional, dan sektor swasta menjadi sangat krusial untuk memastikan setiap korban bencana mendapatkan dukungan psikologis yang mereka butuhkan untuk bangkit kembali.
What's Your Reaction?