Bupati Cilacap Tersangka Pemerasan: KPK Ungkap Skema THR Berbelit dari Satker

KPK menetapkan Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman dan Sekda Sadmoko Danardono sebagai tersangka atas dugaan pemerasan satker untuk kebutuhan THR sejak Lebaran 2025. Kasus ini menunjukkan praktik korupsi terstruktur di tingkat pemerintahan daerah.

Mar 15, 2026 - 00:26
Mar 15, 2026 - 00:26
 0  0
Bupati Cilacap Tersangka Pemerasan: KPK Ungkap Skema THR Berbelit dari Satker

Reyben - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggebrak dunia birokrasi dengan menetapkan dua pejabat tinggi Kabupaten Cilacap sebagai tersangka dalam kasus pemerasan. Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman dan Sekretaris Daerah (Sekda) Sadmoko Danardono menjadi target penyelidikan atas dugaan memeras sejumlah satuan kerja (satker) untuk memenuhi kebutuhan Tunjangan Hari Raya (THR). Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan pejabat puncak di tingkat kabupaten dengan mekanisme yang diduga terstruktur dan melibatkan banyak lembaga pemerintah daerah.

Menurut temuan KPK, praktik pemerasan ini diduga dimulai sejak persiapan Lebaran 2025. Bupati dan Sekda didakwa melakukan tekanan kepada berbagai satker untuk mengalokasikan dana THR mereka sebagai bagian dari skema yang lebih besar. Investigasi mendalam yang dilakukan oleh KPK mengungkapkan pola permintaan dana yang terkoordinasi dengan baik, menunjukkan indikasi kuat bahwa ini bukan sekadar permintaan insidental melainkan sistem yang terorganisir. Para pejabat diduga menggunakan kekuasaan mereka untuk memaksa satker menuruhi permintaan dana, menciptakan ketakutan di kalangan pengelola anggaran tingkat bawah.

Penetapan status tersangka ini menjadi bagian dari momentum besar KPK dalam memberantas korupsi di tingkat daerah. Lembaga independen ini terus menginvestigasi aliran dana yang seharusnya digunakan untuk kepentingan pegawai negeri sipil namun dialihkan dengan cara yang tidak sesuai prosedur. Baik Bupati maupun Sekda, yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi, justru menjadi dalang dalam kasus ini. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik korupsi dapat terjadi di mana saja, termasuk di pusat kekuasaan lokal, dan memperkuat urgensi pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan anggaran daerah.

Respons publik terhadap kasus ini sangat luas, dengan berbagai kalangan menyoroti pentingnya penegakan hukum yang konsisten dan tegas. Kasus Cilacap menjadi cerminan betapa pentingnya transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah dan perlunya mekanisme pengawasan yang lebih kuat. Perjalanan hukum kedua tersangka ini akan menjadi test case bagaimana sistem penegakan hukum bekerja menangani pejabat tinggi yang diduga terlibat tindak pidana korupsi, sementara masyarakat Cilacap menanti keadilan dan perbaikan tata kelola pemerintahan daerah mereka.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow