Buku Sally Rooney Ditarik dari Pasaran Inggris: Ancaman Undang-Undang Terorisme Menimpa Penulis yang Vokal Dukung Palestina

Penerbit Sally Rooney menghentikan distribusi novelnya di Inggris karena khawatir pembayaran royalti melanggar Undang-Undang Terorisme. Keputusan ini menyoroti ketegangan antara kebebasan berpendapat dan regulasi pemerintah yang ketat.

Oct 16, 2026 - 11:30
Oct 16, 2026 - 11:30
 0  5
Buku Sally Rooney Ditarik dari Pasaran Inggris: Ancaman Undang-Undang Terorisme Menimpa Penulis yang Vokal Dukung Palestina

Reyben - Sally Rooney, penulis fenomenal di balik novel bestseller 'Normal People', kini menghadapi dilema yang mencerminkan kompleksitas geopolitik modern. Penerbitnya di Inggris telah memutuskan untuk menghentikan distribusi karya-karyanya, sebuah langkah dramatis yang muncul dari kekhawatiran hukum yang serius. Keputusan ini bukan sekadar masalah bisnis biasa, melainkan benturan langsung antara kebebasan berpendapat, aktivisme sosial, dan regulasi pemerintah yang ketat mengenai pendanaan organisasi yang dianggap terkait terorisme.

Sebagai seorang penulis yang terang-terangan mendukung gerakan Palestina dan menentang konflik di Timur Tengah, Rooney telah menjadi tokoh kontroversial di mata pemerintah Inggris. Ketika pembayaran royalti dari penjualan bukunya dikaitkan dengan potensi pelanggaran Undang-Undang Terorisme Inggris—yang memiliki definisi yang sangat luas tentang apa yang bisa dianggap sebagai pendanaan teroris—penerbitnya terjepit antara dua pilihan sulit. Mereka harus memilih antara terus menerbitkan karya Rooney dengan risiko hukum yang serius, atau menutup operasi penjualan untuk menghindari kemungkinan dakwaan kriminal terhadap perusahaan.

Kasus Rooney ini menyoroti bagaimana undang-undang anti-terorisme yang ambisius dapat digunakan untuk membungkam suara kritis dan membatasi kebebasan ekspresi. Ketika seorang penulis yang diakui secara internasional tidak dapat mendistribusikan bukunya di negara berbahasa Inggris utama karena pandangan politiknya, hal itu menimbulkan pertanyaan mendalam tentang batas-batas kebebasan berbicara di era digital. Penerbit menghadapi dilema yang tidak dapat dihindari: melindungi diri mereka sendiri dari kemungkinan tuntutan hukum pemerintah atau mempertahankan komitmen mereka terhadap kebebasan penulis.

Situasi ini mencerminkan tren yang lebih luas di mana aktivisme dan ekspresi artistik semakin berada di garis depan pertentangan geopolitik. Penulis dan seniman di seluruh dunia kini harus mempertimbangkan konsekkuensi hukum dari menyuarakan pandangan mereka tentang isu-isu kontroversial. Kasus Rooney menjadi semacam kanari dalam pertambangan kebebasan pers dan ekspresi, menandakan bagaimana regulasi anti-terorisme yang luas dapat menjadi alat untuk membungkam kritik dan mengendalikan narasi publik tentang konflik internasional.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow