Bakom: Pemerintah Bukan Takut Kritik, Malah Butuh Suara Rakyat
Kepala Bakom Syahganda Nainggolan menegaskan komitmen pemerintah dalam menerima kritik dan masukan masyarakat sebagai bagian integral dari proses perbaikan kebijakan publik.
Reyben - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan memberikan pesan yang cukup tegas di tengah dinamika komunikasi publik saat ini. Menurutnya, pemerintah tidak hanya membuka telinga terhadap kritik masyarakat, tetapi justru membutuhkan masukan tersebut sebagai bahan evaluasi kebijakan. Dalam era digital yang serba transparan ini, sikap keterbukaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan fundamental bagi setiap institusi pemerintah yang ingin tetap relevan dan responsif terhadap aspirasi rakyat.
Nainggolan menekankan bahwa kritik konstruktif dari masyarakat menjadi salah satu mekanisme penting dalam memperbaiki kinerja pemerintah. Bukan sekadar slogan, komitmen ini direfleksikan melalui berbagai saluran komunikasi dua arah yang terus dikembangkan oleh Bakom. Dari media sosial hingga forum publik langsung, pemerintah berusaha menciptakan ekosistem dialog yang sehat. Dia juga menegaskan bahwa tidak ada batasan dalam memberikan masukan, selama tetap dalam konteks yang bertanggung jawab dan membangun.
Respon pemerintah terhadap kritik tidak bisa dinilai dari reaksi emosional sesaat, melainkan dari bagaimana feedback tersebut diterjemahkan menjadi perbaikan konkret. Bakom sendiri memiliki peran aktif dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menyampaikan berbagai masukan masyarakat kepada kementerian dan lembaga terkait. Proses sistematis ini memastikan bahwa setiap suara yang sampai tidak hilang begitu saja, tetapi benar-benar menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik.
Di sisi lain, Nainggolan juga mengajak masyarakat untuk terus aktif berpartisipasi dalam memberikan masukan dan kritik secara bertanggung jawab. Sikap saling percaya antara pemerintah dan masyarakat adalah fondasi bagi terbangunnya kepercayaan publik yang sesungguhnya. Dengan terus membuka ruang dialog, pemerintah menunjukkan bahwa kesalahan dan kekurangan adalah bagian dari proses yang normal, dan yang terpenting adalah komitmen untuk terus belajar dan berkembang. Pesan Bakom ini menjadi pengingat penting bahwa dalam demokrasi, kritik adalah bentuk partisipasi, bukan perlawanan.
What's Your Reaction?